loading...
loading...

Thursday, 2 August 2018

Peringatan Aneh


Peringatan Aneh

Suatu hari Abu Nawas dipanggil Baginda.
“Abu Nawas.” Kata Baginda Raja Harun Al Rasyid memulai pembicaraan.
“Daulat Paduka yang mulia.” Kata Abu Nawas penuh takzim.
“Aku harus berterus terang kepadamu bahwa kali ini engkau ku panggil bukan untuk mempermainkan atau kuperangkap. Tetapi aku benar-benar memerlukan bantuanmu.” Kata Baginda bersungguh-sungguh.
“Gerangan apakah yang bisa hamba lakukan untuk Paduka yang mulia ?” Tanya Abu Nawas.
“Ketahuilah bahwa beberapa hari yang lalu aku mendapat kunjungan kenegaraan dari negeri sahabat. Kebetulan rajanya beragama Yahudi. Raja itu adalah sahabat karibku. Begitu dia berjumpa denganku dia langsung mengucapkan salam secara Islam, yaitu Assalamualaikum (kesejahteraan buat kalian semua) Aku tak menduga sama sekali. Tanpa pikir panjang aku menjawab sesuai yang diajarkan oleh agama kita, yaitu kalau mendapat salam dari orang yang tidak beragama Islam hendaklah engkau jawab dengan wassamualaikum (kecelakaan bagi kamu) tentu saja dia merasa tersinggung. Dia menanyakan mengapa aku tega membalas salamnya yang penuh doa keselamatan dengan jawaban yang mengandung kecelakaan. Saat itu sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa selain diam. Pertemuanku dengan dia selanjutnya tidak berjalan dengan semestinya. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku hanya melaksanakan apa yang dianjurkan oleh ajaran agama Islam. Tetapi dia tidak menerima penjelasanku. Aku merasakan bahwa pandangannya terhadap agama Islam tidak semakin baik, tetapi sebaliknya. Dan sebelum kami berpisah dia berkata: Rupanya hubungan antara kita mulai sekarang tidak semakin baik, tetapi sebaliknya. Namun apabila engkau mempunyai alasan lain yang bisa aku terima, kita akan tetap bersahabat.” Kata Baginda menjelaskan dengan wajah yang amat murung.
“Kalau hanya itu persoalannya, mungkin hamba bisa memberikan alasan yang dikehendaki raja sahabat Paduka itu yang mulia.” Kata Abu Nawas meyakinkan Baginda.
Mendengar kesanggupan Abu Nawas, Baginda amat riang. Beliau berulang-ulang menepuk pundak Abu Nawas. Wajah Baginda yang semula gundah gulana seketika itu berubah cerah secerah matahari di pagi hari.
“Cepat katakan, wahai Abu Nawas. Jangan biarkan aku menunggu.” Kata Baginda tak sabar.
“Baginda yang mulia, memang sepantasnya kalau raja Yahudi menghaturkan ucapan salam keselamatan dan kesejahteraan kepada Baginda. Karena ajaran Islam memang menuju keselamatan (dari siksa api neraka) dan kesejahteraan (surga), sedangkan raja Yahudi itu tahu Baginda adalah orang Islam. Bukankah Islam mengajarkan tauhid (yaitu tidak menyekutukan Allah dengan yang lain, juga tidak menganggap Allah mempunyai anak. Ajaran tauhid ini tidak dimiliki oleh agama-agama lain termasuk agama yang dianut raja Yahudi sahabat Paduka yang mulia. Ajaran agama Yahudi menganggap Uzair adalah anak Allah seperti orang Nasrani beranggapan Isa anak Allah. Maha Suci Allah dari segala sangkaan meraka. Tidak pantas Allah mempunyai anak. Sedangkan orang Islam membalas salam dengan ucapan Wassamualaikum (kecelakaan bagi kamu) bukan berarti kami mendoakan kamu agar celaka. Tetapi semata-mata karena ketulusan dan kejujuran ajaran Islam yang masih bersedia memperingatkan orang lain atas kecelakaan yang akan menimpa mereka bila mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan yang keliru itu, yaitu tuduhan mereka bahwa Allah yang Maha Pengasih mempunyai anak.” Abu Nawas menjelaskan.
Seketika itu kegundahan Baginda Raja Harun Al Rasyid sirna. Kali ini saking gembiranya Baginda menawarkan Abu Nawas agar memilih sendiri hadiah apa yang disukai. Abu Nawas tidak memilih apa-apa karena ia berkeyakinan bahwa tak selayaknya ia menerima upah dari ilmu agama yang ia sampaikan. 


Bersambung....

Thursday, 19 November 2015

Mengecoh Raja



Mengecoh Raja
            Sejak peristiwa  penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang dilegalisir oleh Baginda. Sejak saat itu pula, Baginda ingin menangkap Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.
            Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman dari Baginda. Baginda tahu Abu Nawas sangat takut kepada beruang. Suatu hari, Baginda Raja memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Sultan Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetar, tetapi ia tidak berani menolak perintah raja.
            Dalam perjalanan menuju hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah menjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
            “Tahukah mengapa engkau aku panggil ?” Tanya Baginda tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
            “Ampun Tuanku, hamba belum tahu.” Kata Abu Nawas.
            “Kau pasti tahu sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh dari sini. Kau kuberi kuda yang lamban. Sedangkan aku dan pengwal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat. Nanti pada waktu sanatap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering. Sekarang kita berpencar.” Baginda menjelaskan.
            Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahu Baginda akan menjebaknya. Ia harus mencari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir,  tiba-tiba hujan turun.
            Begitu hujan turun, Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan terdekat. Tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup. Ketika santap siang tiba, Baginda menuju tempat persitrahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban. Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah. Padahal dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat berlindung yang paling dekat.
            Pada hari kedua Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi Baginda. Kini Baginda dan para pengawalnya menunggangi kuda yang lamban.  Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Baginda dan para pengawalnya langsung basah kuyup  karena kuda yang ditunggagi tidak bisa berlari dengan kencang.
            Ketika saat santap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dulu dari pada Baginda dan para pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja. Selang beberapa saat, Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup.  Melihat Abu Nawas yang pakaiannya tetap kering, Baginda jadi penasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan.
            “Terus terang. Bagaimana cara menghindari hujan, wahai Abu Nawas ?” Tanya Baginda.
            “Mudah Tuanku yang mulia.” Kata Abu Nawas sambil tersenyum.
            “Sedangkan aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini.” Kata Baginda.
            “Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan. Tetapi begitu hujan turun, hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya. Lalu hamba mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti.” Diam-diam Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.

BERSAMBUNG……

Membalas Perbatan Raja



Membalas Perbuatan Raja
            Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi, beberapa pekerja kerajaan atas titah langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka, tadi malam Baginda bermimpi bahwa, di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali, ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak minta maaf kepada Abu Nawas. Apalagi mengganti kerugian, inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.
            Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan istrinya tidak dimakan, karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak. Keesokan harinya Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. Ia tiba-tiba tertawa riang.
            “Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi.” Abu Nawas berkata kepada istrinya.
            “Untuk apa ?” Tanya istrinya heran.
            “Membalas Baginda Raja.” Kata Abu Nawas singkat.      
            Dengan muka berseri-seri, Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana, Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata, “Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa izin dari hamba, dan berani memakan makana hamba.” “Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas ?” Sergap Baginda kasar. “Lalat-lalat ini, Tuanku.” Kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya. “Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini.” “Lalu keadilan yanga bagaimana yang engkau inginkan dariku?”
            “Hamba hanya menginginkan izin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu.” Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abu Nawas. Karena pada saat itu, para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat izin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di mana pun mereka hinggap.
            Tanpa menunggu perintah, Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana-sini. Dengan tongkat besi yang sudah  sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.
            Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias. Sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
            Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluaraganya. Dan setelah merasa puas, Abu nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena terhadap Abu nawas. Abu Nawas yang tampak lucu dan sering menyenangkan orang itu, ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya
            Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.


BERSAMBUNG…….

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi



Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi

            Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Datanglah dua orang tamu ke rumah-nya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
            Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab.
            "Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian kepadaku pada malam hari ini           sambil membawa cangkul, penggali, kapak, dan martil serba batu."
            Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.
            Pada malam harinya, mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
            Bekata Abu Nawas, "Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
            "Hah? Merusak rumah Tuan Kadi? " Gumam semua muridnya keheranan.
            "Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" Kata Abu Nawas             menghapus keraguan murid-muridnya. "Barang siapa mencegahmu, jangan kau          perdulikan. Terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya,   katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian,    maka pukullah mereka dan lemparilah dengan batu."
            Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak menuju rumah Tuan Kadi. Laksana demonstran, mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakuan mereka. Lebih-lebih tanpa basa-basi lagi, mereka langsung merusak rumah Tuan Kadi.
            Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka. Namun, karena jumlah murid-murid Abu Nawas yang terlalu banyak, maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
            Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi keluar dan bertanya, "Siapa yang       menyuruh kalian merusak rumahku?"
            Murid-murid itu menjawab, "Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami."
            Habis menjawab begitu, mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
            Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak ada orang yang berani membelanya.        "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi akan aku laporkan kepada        Baginda."
            Benar, esok paginya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.
            Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas, apa sebabnya kau merusak rumah Tuan Kadi itu?"
            Abu Nawas menjawab, "Wahai Tuanku, sebabnya ialah, pada suatu malam hamba            bermimpi. Bahwasannya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah     itu tidak cocok baginya. Ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Ya, karena mimpi      itu hamba merusak rumah Tuan Kadi.
            Baginda berkata. "Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah             dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu ?"
            Dengan tenang Abu Nawas mejawab, "Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang         baru ini Tuanku."
            Mendengar perkataan Abu Nawas, seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa.
            "Hai Kadi, benarkah kau mempunyai hukum seperti itu ?" Tanya Baginda.
            Tapi Tuan Kadi tiada menjawab. Wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.
            "Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini!"         Perintah Baginda.
            "Baiklah..." Abu Nawas tetap tenang. "Baginda... Beberapa hari yang lalu ada seorang       pemuda Mesir datang ke Negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta         yang banyak sekali. Pada suatu malam, ia bermimpi menikah dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi      mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya.       Tentu saja pemuda Mesir itu tidak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di    sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi. Ia tenyata merampas semua harta benda milik     pemuda Mesir. Sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
            Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas. Tapi masih belum percaya seratus persen. Maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana. Jadi, mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
            Berkata Baginda Raja, "Hai anak Mesir, ceritakanlah hal ihwal dirimu sejak engkau            datang ke negeri ini."
            Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu membawa saksi, yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.
            "Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya."             Baginda sangat murka. Kadi yang baru angkat langsung dipecat. Dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
            Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
            Berkata Abu Nawas, "Janganlah engkau memberiku barang sesuatu pun kepadaku. Aku    tidak akan menerimanya sedikit pun juga."
            Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke Negeri Mesir, ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir. Sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.


BERSAMBUNG…..