loading...
loading...

Thursday, 19 November 2015

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi



Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi

            Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Datanglah dua orang tamu ke rumah-nya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
            Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab.
            "Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian kepadaku pada malam hari ini           sambil membawa cangkul, penggali, kapak, dan martil serba batu."
            Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.
            Pada malam harinya, mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
            Bekata Abu Nawas, "Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
            "Hah? Merusak rumah Tuan Kadi? " Gumam semua muridnya keheranan.
            "Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" Kata Abu Nawas             menghapus keraguan murid-muridnya. "Barang siapa mencegahmu, jangan kau          perdulikan. Terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya,   katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian,    maka pukullah mereka dan lemparilah dengan batu."
            Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak menuju rumah Tuan Kadi. Laksana demonstran, mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakuan mereka. Lebih-lebih tanpa basa-basi lagi, mereka langsung merusak rumah Tuan Kadi.
            Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka. Namun, karena jumlah murid-murid Abu Nawas yang terlalu banyak, maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
            Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi keluar dan bertanya, "Siapa yang       menyuruh kalian merusak rumahku?"
            Murid-murid itu menjawab, "Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami."
            Habis menjawab begitu, mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
            Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak ada orang yang berani membelanya.        "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi akan aku laporkan kepada        Baginda."
            Benar, esok paginya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.
            Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas, apa sebabnya kau merusak rumah Tuan Kadi itu?"
            Abu Nawas menjawab, "Wahai Tuanku, sebabnya ialah, pada suatu malam hamba            bermimpi. Bahwasannya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah     itu tidak cocok baginya. Ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Ya, karena mimpi      itu hamba merusak rumah Tuan Kadi.
            Baginda berkata. "Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah             dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu ?"
            Dengan tenang Abu Nawas mejawab, "Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang         baru ini Tuanku."
            Mendengar perkataan Abu Nawas, seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa.
            "Hai Kadi, benarkah kau mempunyai hukum seperti itu ?" Tanya Baginda.
            Tapi Tuan Kadi tiada menjawab. Wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.
            "Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini!"         Perintah Baginda.
            "Baiklah..." Abu Nawas tetap tenang. "Baginda... Beberapa hari yang lalu ada seorang       pemuda Mesir datang ke Negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta         yang banyak sekali. Pada suatu malam, ia bermimpi menikah dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi      mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya.       Tentu saja pemuda Mesir itu tidak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di    sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi. Ia tenyata merampas semua harta benda milik     pemuda Mesir. Sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
            Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas. Tapi masih belum percaya seratus persen. Maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana. Jadi, mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
            Berkata Baginda Raja, "Hai anak Mesir, ceritakanlah hal ihwal dirimu sejak engkau            datang ke negeri ini."
            Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu membawa saksi, yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.
            "Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya."             Baginda sangat murka. Kadi yang baru angkat langsung dipecat. Dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
            Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
            Berkata Abu Nawas, "Janganlah engkau memberiku barang sesuatu pun kepadaku. Aku    tidak akan menerimanya sedikit pun juga."
            Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke Negeri Mesir, ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir. Sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.


BERSAMBUNG…..

No comments:

Post a Comment