loading...
loading...

Thursday, 19 November 2015

Mengecoh Raja



Mengecoh Raja
            Sejak peristiwa  penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang dilegalisir oleh Baginda. Sejak saat itu pula, Baginda ingin menangkap Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.
            Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman dari Baginda. Baginda tahu Abu Nawas sangat takut kepada beruang. Suatu hari, Baginda Raja memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Sultan Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetar, tetapi ia tidak berani menolak perintah raja.
            Dalam perjalanan menuju hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah menjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
            “Tahukah mengapa engkau aku panggil ?” Tanya Baginda tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
            “Ampun Tuanku, hamba belum tahu.” Kata Abu Nawas.
            “Kau pasti tahu sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh dari sini. Kau kuberi kuda yang lamban. Sedangkan aku dan pengwal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat. Nanti pada waktu sanatap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering. Sekarang kita berpencar.” Baginda menjelaskan.
            Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahu Baginda akan menjebaknya. Ia harus mencari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir,  tiba-tiba hujan turun.
            Begitu hujan turun, Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan terdekat. Tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup. Ketika santap siang tiba, Baginda menuju tempat persitrahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban. Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah. Padahal dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat berlindung yang paling dekat.
            Pada hari kedua Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi Baginda. Kini Baginda dan para pengawalnya menunggangi kuda yang lamban.  Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Baginda dan para pengawalnya langsung basah kuyup  karena kuda yang ditunggagi tidak bisa berlari dengan kencang.
            Ketika saat santap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dulu dari pada Baginda dan para pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja. Selang beberapa saat, Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup.  Melihat Abu Nawas yang pakaiannya tetap kering, Baginda jadi penasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan.
            “Terus terang. Bagaimana cara menghindari hujan, wahai Abu Nawas ?” Tanya Baginda.
            “Mudah Tuanku yang mulia.” Kata Abu Nawas sambil tersenyum.
            “Sedangkan aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini.” Kata Baginda.
            “Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan. Tetapi begitu hujan turun, hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya. Lalu hamba mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti.” Diam-diam Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.

BERSAMBUNG……

No comments:

Post a Comment