loading...
loading...

Thursday, 19 November 2015

Mengecoh Raja



Mengecoh Raja
            Sejak peristiwa  penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang dilegalisir oleh Baginda. Sejak saat itu pula, Baginda ingin menangkap Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.
            Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman dari Baginda. Baginda tahu Abu Nawas sangat takut kepada beruang. Suatu hari, Baginda Raja memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Sultan Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetar, tetapi ia tidak berani menolak perintah raja.
            Dalam perjalanan menuju hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah menjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
            “Tahukah mengapa engkau aku panggil ?” Tanya Baginda tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
            “Ampun Tuanku, hamba belum tahu.” Kata Abu Nawas.
            “Kau pasti tahu sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh dari sini. Kau kuberi kuda yang lamban. Sedangkan aku dan pengwal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat. Nanti pada waktu sanatap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering. Sekarang kita berpencar.” Baginda menjelaskan.
            Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahu Baginda akan menjebaknya. Ia harus mencari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir,  tiba-tiba hujan turun.
            Begitu hujan turun, Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan terdekat. Tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup. Ketika santap siang tiba, Baginda menuju tempat persitrahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban. Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah. Padahal dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat berlindung yang paling dekat.
            Pada hari kedua Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi Baginda. Kini Baginda dan para pengawalnya menunggangi kuda yang lamban.  Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Baginda dan para pengawalnya langsung basah kuyup  karena kuda yang ditunggagi tidak bisa berlari dengan kencang.
            Ketika saat santap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dulu dari pada Baginda dan para pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja. Selang beberapa saat, Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup.  Melihat Abu Nawas yang pakaiannya tetap kering, Baginda jadi penasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan.
            “Terus terang. Bagaimana cara menghindari hujan, wahai Abu Nawas ?” Tanya Baginda.
            “Mudah Tuanku yang mulia.” Kata Abu Nawas sambil tersenyum.
            “Sedangkan aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini.” Kata Baginda.
            “Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan. Tetapi begitu hujan turun, hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya. Lalu hamba mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti.” Diam-diam Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.

BERSAMBUNG……

Membalas Perbatan Raja



Membalas Perbuatan Raja
            Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi, beberapa pekerja kerajaan atas titah langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka, tadi malam Baginda bermimpi bahwa, di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali, ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak minta maaf kepada Abu Nawas. Apalagi mengganti kerugian, inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.
            Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan istrinya tidak dimakan, karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak. Keesokan harinya Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. Ia tiba-tiba tertawa riang.
            “Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi.” Abu Nawas berkata kepada istrinya.
            “Untuk apa ?” Tanya istrinya heran.
            “Membalas Baginda Raja.” Kata Abu Nawas singkat.      
            Dengan muka berseri-seri, Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana, Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata, “Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa izin dari hamba, dan berani memakan makana hamba.” “Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas ?” Sergap Baginda kasar. “Lalat-lalat ini, Tuanku.” Kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya. “Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini.” “Lalu keadilan yanga bagaimana yang engkau inginkan dariku?”
            “Hamba hanya menginginkan izin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu.” Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abu Nawas. Karena pada saat itu, para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat izin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di mana pun mereka hinggap.
            Tanpa menunggu perintah, Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana-sini. Dengan tongkat besi yang sudah  sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.
            Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias. Sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
            Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluaraganya. Dan setelah merasa puas, Abu nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena terhadap Abu nawas. Abu Nawas yang tampak lucu dan sering menyenangkan orang itu, ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya
            Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.


BERSAMBUNG…….

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi



Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi

            Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Datanglah dua orang tamu ke rumah-nya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
            Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab.
            "Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian kepadaku pada malam hari ini           sambil membawa cangkul, penggali, kapak, dan martil serba batu."
            Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.
            Pada malam harinya, mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
            Bekata Abu Nawas, "Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
            "Hah? Merusak rumah Tuan Kadi? " Gumam semua muridnya keheranan.
            "Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" Kata Abu Nawas             menghapus keraguan murid-muridnya. "Barang siapa mencegahmu, jangan kau          perdulikan. Terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya,   katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian,    maka pukullah mereka dan lemparilah dengan batu."
            Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak menuju rumah Tuan Kadi. Laksana demonstran, mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakuan mereka. Lebih-lebih tanpa basa-basi lagi, mereka langsung merusak rumah Tuan Kadi.
            Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka. Namun, karena jumlah murid-murid Abu Nawas yang terlalu banyak, maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
            Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi keluar dan bertanya, "Siapa yang       menyuruh kalian merusak rumahku?"
            Murid-murid itu menjawab, "Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami."
            Habis menjawab begitu, mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
            Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak ada orang yang berani membelanya.        "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi akan aku laporkan kepada        Baginda."
            Benar, esok paginya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.
            Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas, apa sebabnya kau merusak rumah Tuan Kadi itu?"
            Abu Nawas menjawab, "Wahai Tuanku, sebabnya ialah, pada suatu malam hamba            bermimpi. Bahwasannya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah     itu tidak cocok baginya. Ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Ya, karena mimpi      itu hamba merusak rumah Tuan Kadi.
            Baginda berkata. "Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah             dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu ?"
            Dengan tenang Abu Nawas mejawab, "Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang         baru ini Tuanku."
            Mendengar perkataan Abu Nawas, seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa.
            "Hai Kadi, benarkah kau mempunyai hukum seperti itu ?" Tanya Baginda.
            Tapi Tuan Kadi tiada menjawab. Wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.
            "Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini!"         Perintah Baginda.
            "Baiklah..." Abu Nawas tetap tenang. "Baginda... Beberapa hari yang lalu ada seorang       pemuda Mesir datang ke Negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta         yang banyak sekali. Pada suatu malam, ia bermimpi menikah dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi      mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya.       Tentu saja pemuda Mesir itu tidak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di    sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi. Ia tenyata merampas semua harta benda milik     pemuda Mesir. Sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
            Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas. Tapi masih belum percaya seratus persen. Maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana. Jadi, mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
            Berkata Baginda Raja, "Hai anak Mesir, ceritakanlah hal ihwal dirimu sejak engkau            datang ke negeri ini."
            Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu membawa saksi, yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.
            "Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya."             Baginda sangat murka. Kadi yang baru angkat langsung dipecat. Dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
            Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
            Berkata Abu Nawas, "Janganlah engkau memberiku barang sesuatu pun kepadaku. Aku    tidak akan menerimanya sedikit pun juga."
            Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke Negeri Mesir, ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir. Sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.


BERSAMBUNG…..

Pesan Bagi Para Hakim



Pesan Bagi Para Hakim
            Siapakah Abu Nawas ? Tokoh yang dianggap badut, namun juga dianggap lama besar (sufi). Tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini, aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz dan meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa, ia mengembara ke Basra dan Kufa. Di sana ia belajar Bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang Badui Padang Pasir. Karena pergaulannya itu, ia mahir Bahasa Arab, adat istiadat, dan kegemaran orang Arab. Ia juga pandai bersyair, berpantun, dan menyanyi. Ia sempat pulang ke negerinya, namun kembali lagi ke Baghdad bersama ayahnya. Keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.
            Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah penghulu Raja Baghdad yang bernama Maulana. Pada suau hari, bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
            Abu Nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah Sultan (Raja) untuk mrnguburkan jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Malana. Apayang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana. Baik mengenai tata cara memandikan jenazah, hingga mengkafani, menyolati, dan mendo’akannya. Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.
            Namun.. Demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu nampak berubah menjadi gila.
            Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil sepotong batang pisang dan diperlakukannya selayaknya seekor kuda. Ia menunggangi kuda dari batang pohon itu, sambil berlari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat Abu Nawas menjadi terheran-heran dibuatnya.
            Pada hari yang lain, ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu, ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
            Kini semua orang semakin heran dengan kelakuan Abu Nawas itu. Mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.

            Pada suatau hari. Ada beberapa Orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid untuk menemui Abu Nawas.
“Hai Abu Nawas, kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana.” Kata Wazir utusan Sultan.
“Buat apa Sultan memanggiku ? aku tidak ada keperluan dengannya.” Jawab Abu Nawas dengan
entengnya seperti tanpa beban.
            “Hai Abu Nawas, kau tidak boleh berkata seperti itu kepada Rajamu.”
            “Hai Wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil  ini, dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar.” Kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.
            Si Wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
            “Abu Nawas, kau mau tidak menghadap Sultan ?” Kata Wazir.
            “Katakan kepada Rajamu. Aku sudah tau, maka aku tidak mau,” Kata Ab Nawas.
            “Apa maksudnya Abu Nawas ?” Tanya Wazir dengan penasaran.
            “Sudah. Pergi sana. Bilang saja begitu kepada Rajamu.” Sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah Si Wazir dan teman-temannya.
            SI Wazir segera menyingkir dari halama rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
            Dengan geram Sultan berkata, “Kalian semua bodoh, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tidak becus ! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas, bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa.”
            Si Wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa, Abu Nawas dihadirkan di hadapan Raja. Namun lagi-lagi di depan Raja, Ab Nawas berlagak pilon. Bahkan, tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang Raja.
            “Abu Nawas, bersikaplah sopan !” Tegur Baginda.
            “Ya Baaginda, tahukah anda…?”
            “Apa Abu Nawas…?”
            “Baginda… Terasi itu asalnya dari udang !”
            “Kurang ajar kau menghinaku Abu Nawas !”
            “Tidak Baginda ! Siapa bilang udang berasal dari terasi ?”
            Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya.
            “Hajar dia! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali.”
            Wah-wah ! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar. Usai dipukuli, Abu Nawas disuruh keluar istana.
            Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
            “Hai Abu Nawas! Tempo hari, ketika kau hendak masuk ke kota ini. Kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu ? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda, maka engkau berkata : Aku bagi dua. Engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu ?”
            “Hai penjaga pintu gerbang. Apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepadaku tadi ?”
            “Iya, tentu. Itu kan sudah menjadi perjanjian kita.”
            “Baik, aku berikan semuanya. Bukan satu bagian !”
            “Wah, ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu. Kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda.”
            Tanpa banyak cakap lagi, Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar. Lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali. Tentu saja orang itu menjeri-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
            Setelah penjaga gerbang itu klenger, Abu Nawas meninggalkannya begitu saja. Ia terus melangkah pulang ke rumahnya.
            Sementara itu, si penjaga gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.
            “Ya. Tuanku Syah Alam. Ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukuli hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohon keadilan dari Tuan Baginda.”
            Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda, ia ditanya, “Hai Abu Nawas ! Benarkah kau telah memukuli penjaga pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan ?”
            Berkata Abu Nawas, “Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu.”
            “Apa maksudmu ? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu ?” Tanya Baginda.
            “Tuanku, hamba dan penjaga pintu gerbang telah mengadakan sebuah perjanjian. Bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda, maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya, satu bagian untuk saya. Nah, tadi pagi saya menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan. Maka saya berikan pula dua puluh lima kali pukulan kepadanya.” Kata Abu Nawas.
            “Hai penjaga pintu. Benarkah kau telah mengadakan penrjanjian seperti itu dengan Abu Nawas ?” Tanya Baginda.
            “Benar Tuanku.” Jawab penjaga pintu gerbang. “Tapi…. Tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan.”
            “Hahahahaha….! Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!” Sahut Baginda.”Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah seorang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu, sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!”
            “Ampun Tuanku,” Sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.
            Abu Nawas berkata, ”Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba di wajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba.”
            Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas. Namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha….jangan kuatir Abu Nawas.” Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan untuk memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
            Tetapi, sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.
            Pada suatu hari, Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya.
            “Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?”
            Wazir atau perdana menteri berkata,”Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya, maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja  sebagai kadi.”
            Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
            “Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.”
 “Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga, bolehlah kita mencari kadi yang lain saja.”
            Setelah lewat satu bulan, Abu Nawas masih dianggap gila. Maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
            Konon dalam suatu pertemuan besar ada seseorang yang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi kadi. Ia mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi kadi. Maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi kadi kepada Baginda, dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi, maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan.             “Alhamdulillah…….aku terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi… sayang sekali, kenapa harus Polan yang menjadi kadi, kenapa tidak yang lain saja.”
            Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:
            Pada suatu hari, ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia, ia memanggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.
            Berkata bapaknya, ”Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku.”
            Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya, ia cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum. Sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
            “Bagaimana anakku? Sudah kau cium?”
            “Benar Bapak!”
            “Ceritakanlah dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku ini.”
            “Aduh pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi… yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?”
            “Hai anakku Abu Nawas, tahukah kau apa sebabnya bisa terjadi begini?”
            “Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.”
            Berkata Syeikh Maulana. ”Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak ku dengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi kadi (penghulu). Jika kelak kau suka menjadi kadi, maka kau akan mengalami hal yang sama. Namun jika kau tidak suka menjadi kadi, maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih menjadi kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tidak bisa tidak, Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai kadi.”

            Nah, itulah sebabnya Abu Nawas berpura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindari diri agar tidak diangkat menjadi kadi. Seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti seorang hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi seorang Kadi, namun dia sering diajak konsultasi oleh Sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

BERSAMBUNG…..